Konglomerasi Media Massa



Apa itu Konglomerasi media massa?

Konglomerasi media massa adalah semua usaha (bisnis) menyatukan seluruh media bervisi dan misi sama untuk dibentuk menjadi lebih besar dan menjalankan segala agendanya. Hal ini akan membuat konten dalam setiap media massa homogen dan semua akan mengikuti kebijakan si pemilik media massa tersebut. Netralitas pers tidak lagi dibutuhkan semua akan tunduk pada kepentingan pemilik.
Di Indonesia sendiri, konglomerasi media ini sudah tersebar kemana-mana. Seperti misalnya

            Aburizal Bakrie, pemilik Viva Group, yang membawahi Tv one, ANTV, Vivanews
Hary Tanoesudibjo, pemilik MNC Group, yang membawahi RCTI, MNC TV, Global TV dan  koran Sindo.  
Chairul Tanjung, pemilik Trans Tv dan Trans 7. 



Mereka ini merupakan konglomerat media yang sudah terkenal di Indonesia. Bisa dibayangkan, berapa banyak keuntungan yang mereka dapatkan dari usaha-usaha Industri media yang mereka jalankan tersebut. Selain itu, mereka juga terjun ke dalam dunia politik, yang dimana mereka mempunyai partai sendiri. Jadi, sudah bisa dipastikan jika media yang mereka miliki lebih banyak memberikan informasi seputar partai atau karir politik mereka. Dimana mereka akan menunjukkan keunggulan kair di bidang politik dan partai mereka, dengan tujuan untuk menunjukkan eksistensi mereka dan meraih simpati masyarakat. 

             Dari situasi tersebut dapat diketahui bahwa konglomerasi media memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif tentu dirasakan pemilik media. Mereka akan mendapatkan keuntungan yang sangat banyak, baik dari segi finansial maupun eksistensi diri mereka sendiri dan perusahaannya. Sedangkan dampak negatifnya sendiri akan dirasakan oleh para jurnalis yang berada di dalam media tersebut, dan tentunya masyarakat. Pertama, para jurnalis dituntut oleh pemilik media tersebut untuk memberitakan segala hal yang positif tentang mereka dan yang menyangkut kepentingan mereka. Sehingga, hal tersebut akan mengancam kebebasan pers dan menghilangkan idealisme jurnalis tersebut untuk memberikan informasi yang jujur dan berimbang.

             Kedua, masyarakat akan kehilangan haknya dalam mendapatkan informasi yang layak, akurat, jujur dan berimbang. Mereka akan terus-menerus diberikan informasi yang berkaitan dengan si pemilik media tersebut, bahkan informasi yang diberikan pun cenderung melebih-lebihkan keunggulan pemilik media. Hal tersebut akan menimbulkan opini yang seragam di masyarakat. Opini tersebut juga merupakan hal yang diinginkan oleh pemilik media. Jadi, persepsi mereka mengenai informasi yang diberikan oleh media tersebut telah diatur oleh pemilik media. (Alifta Resya.2016.(inspirasi.co))
Previous
Next Post »
0 Komentar