photo by : tempo.com
Representasi
merupakan hubungan antara konsep-konsep pikiran dan bahasa yang memungkinkan
pembaca menunjuk pada dunia yang sesungguhnya dari suatu obyek, realitas, atau
pada dunia imajiner tentang obyek fiktif, manusia atau peristiwa. Dengan cara
pandang seperti itu, Hall memetakan sistem representasi ke dalam dua bagian,
yakni mental representations dan bahasa (Hall, 1997:17).
Mental
representations
bersifat subyektif, individual;
masing-masing orang memiliki perbedaan dalam mengorganisasikan dan
mengklasifikasikan konsep-konsep sekaligus menetapkan hubungan diantara semua itu. Sedangkan bahasa menjadi bagian sistem
representasi karena pertukaran makna tidak mungkin terjadi ketika tidak ada
akses terhadap bahasa bersama. Istilah umum yang seringkali digunakan untuk
kata, suara, atau kesan yang membawa makna adalah tanda (sign).
Bahasa dan
tanda atau sign dalam iklan anak-anak di televisi tampak dalam fenomena
kata-kata atau statemen, gambar atau adegan dalam iklan tersebut. Anak-anak
tidak serta merta berakting dan menyampaikan informasi produk iklan, namun
sekaligus anak menawarkan simbol-simbol ideologi tertentu, terutama ideologi
dominan. Ideologi kapitalis. (Dian Marhaeni, 2006 )
Pada contoh berikut, dilakukan proses penafsiran atas kalimat narasi iklan Trie Indie + versi anak-anak dan juga nilai yang terkandung pada kalimat iklan dan kontroversinya. Terdapat 2 versi iklan Trie Indie + versi anak –anak dengan 19 narasi yang dianalisis oleh peneliti dengan menggunakan metode Semiotika dari Louis Hjelmslev yang melihat penafsiran berdasarkan pada hubungan “ungkapan” dan “kandungan” isi pesan terutama pada sisi bahasa yang terdapat pada narasi yang digunakan sebagai item utama untuk menguatkan pesan iklan dan mengetahui hubungan tanda pada kalimat. Pada narasi disini memiliki peran kuat dibandingkan visualnya karena narasi yang dibacakan oleh anak-anak sebagai penonjolan utama dari iklan yang disampaikannya.
Kedua narasi iklan yang terdiri dari 19 baris kalimat yang diucapkan oleh anak-anak pada iklan Trie Indie+ mengungkapkan tentang kiasan-kiasan berupa harapan jika sudah dewasa dan harapan bekerja dengan mengedepankan kemapanan dalam pekerjaan yang diperoleh. Terdapat empat baris pesan iklan Trie Indie+ versi anak-anak yang pertama dan enam pesan iklan Trie Indie+ versi anak-anak pada versi iklan yang kedua. Pesan iklan yang disampaikan sebagai sebuah tanda dimana penguatan ungkapan yang digunakan pada narasi disini berfungsi untuk menggambarkan sebuah harapan untuk bekerja dengan mengedepankan kemapanan dalam pekerjaan. Dicontohkan pada kalimat di barisan pertama versi 1 “Kalau aku udah gede, aku pengen kerja di multinasional company” dan versi 2 “Kalau aku udah gede, aku mau jadi eksmud, mau jadi bos”
Dilihat dari narasi yang dibacakan mereka maka disimpulkan bahwa Representasi anak – anak disini terutama pada pesan komunikasinya bukan diperankan selayaknya perilaku anak-anak untuk kesehariannya, melainkan pengucapan yang selayaknya diucapkan oleh orang dewasa. Sehingga disini terdapat pertentangan antara konten narasi dengan karakteristik anak-anak.Hal tersebut dapat dilihat melalui visual, dimana pada visual yang menggambarkan anak-anak yang sedang bermain dan berbicara di dalam dan luar ruangan tidak menunjukkan tanda yang menonjol sebagai penguatan karakter iklan karena karakter pada kedua iklan lebih dikuatkan pada konten narasinya. Penguatan konten narasi disini lebih menitikberatkan pada konten narasi dewasa.Sehingga pertentangannya adalah pada visual dan narasi iklan yang tidak berkesinambungan.
Pada contoh berikut, dilakukan proses penafsiran atas kalimat narasi iklan Trie Indie + versi anak-anak dan juga nilai yang terkandung pada kalimat iklan dan kontroversinya. Terdapat 2 versi iklan Trie Indie + versi anak –anak dengan 19 narasi yang dianalisis oleh peneliti dengan menggunakan metode Semiotika dari Louis Hjelmslev yang melihat penafsiran berdasarkan pada hubungan “ungkapan” dan “kandungan” isi pesan terutama pada sisi bahasa yang terdapat pada narasi yang digunakan sebagai item utama untuk menguatkan pesan iklan dan mengetahui hubungan tanda pada kalimat. Pada narasi disini memiliki peran kuat dibandingkan visualnya karena narasi yang dibacakan oleh anak-anak sebagai penonjolan utama dari iklan yang disampaikannya.
Kedua narasi iklan yang terdiri dari 19 baris kalimat yang diucapkan oleh anak-anak pada iklan Trie Indie+ mengungkapkan tentang kiasan-kiasan berupa harapan jika sudah dewasa dan harapan bekerja dengan mengedepankan kemapanan dalam pekerjaan yang diperoleh. Terdapat empat baris pesan iklan Trie Indie+ versi anak-anak yang pertama dan enam pesan iklan Trie Indie+ versi anak-anak pada versi iklan yang kedua. Pesan iklan yang disampaikan sebagai sebuah tanda dimana penguatan ungkapan yang digunakan pada narasi disini berfungsi untuk menggambarkan sebuah harapan untuk bekerja dengan mengedepankan kemapanan dalam pekerjaan. Dicontohkan pada kalimat di barisan pertama versi 1 “Kalau aku udah gede, aku pengen kerja di multinasional company” dan versi 2 “Kalau aku udah gede, aku mau jadi eksmud, mau jadi bos”
Dilihat dari narasi yang dibacakan mereka maka disimpulkan bahwa Representasi anak – anak disini terutama pada pesan komunikasinya bukan diperankan selayaknya perilaku anak-anak untuk kesehariannya, melainkan pengucapan yang selayaknya diucapkan oleh orang dewasa. Sehingga disini terdapat pertentangan antara konten narasi dengan karakteristik anak-anak.Hal tersebut dapat dilihat melalui visual, dimana pada visual yang menggambarkan anak-anak yang sedang bermain dan berbicara di dalam dan luar ruangan tidak menunjukkan tanda yang menonjol sebagai penguatan karakter iklan karena karakter pada kedua iklan lebih dikuatkan pada konten narasinya. Penguatan konten narasi disini lebih menitikberatkan pada konten narasi dewasa.Sehingga pertentangannya adalah pada visual dan narasi iklan yang tidak berkesinambungan.
sumber :
https://www.academia.edu/24166343/REPRESENTASI_ANAK-ANAK_DALAM_TAYANGAN_IKLAN_KOMERSIAL_DI_MEDIA
ejournal.bsi.ac.id/assets/files/Jurnal_Komunikasi_No_2_vol_5_14_ok_kp3_01.pdf

0 Komentar