sumber gambar : kompasiana.com
Berdasarkan pengertian tersebut perempuan tentunya memiliki posisi terbaik dalam kehidupan sehari-hari. Namun pada kenyataannya, subordinasi perempuan masih saja terjadi. Jadi, representasi perempuan merupakan gambaran (perwakilan) perempuan. Sedangkan representasi perempuan dalam media adalah bagaimana media massa menggambarkan (dari perwakilan orang / kelompok) perempuan kepada khalayak.
Representasi perempuan dalam media khususnya televisi menawarkan model-model peran yang mendorong ketundukan perempuan pada dunia laki-laki, dan yang mengecilkan arti penghargaan diri dan sikap proaktif perempuan. Dengan sendirinya representasi ini berkaitan dengan gender.
Mengutip buku “Eksplorasi Gender di Ranah Jurnalisme dan Hiburan” dengan penyunting Ashadi Siregar dkk, mengatakan ada tiga relasi discourse yang digunakan dalam melihat komodifikasi perempuan di dalam media hiburan pada tingkat “tekstual”. Pertama, keberadaan perempuan di dalam media massa dikaitkan dengan ‘inter-relasinya’ dengan keberadaan laki-laki yang secara bersama-sama menentukan posisi dan eksistensi masing-masing. Kedua, analisis tersebut memperhatikan berbagai pengaruh budaya popular global terhadap media lokal. Ketiga, dengan melihat berbagai pengaruh tersebut, diharapkan dapat dilihat berbagai perubahan relasi gender di dalam media hiburan.
Representasi perempuan yang terbelenggu dalam tayangan
TVC ini bisa dilihat dari key visual yang muncul dan ditemukan peneliti
di setiap shot dalam adegannya. Secara berurutan key visual yang
dinampakkan antara lain simbol burung dalam kandang dan diisi dengan
narasi yang mengatakan kebebasan itu omong kosong. Hal ini bermakna
bahwa sosok perempuan dalam tayangan iklan ini adalah seseorang yang
tidak bebas dan terkekang. Kemudian pada shot berikutnya key visual
dinampakkan ketika sosok perempuan mengenakan rok panjang basah
terkena air sehingga dia harus mengangkatnya sampai di atas lutut.
Adegan ini juga diiringi dengan narasi yang mengatakan katanya aku
bebas berekspresi, tapi selama rok masih di bawah lutut. Hal ini
bermakna bahwa hak sosok perempuan dalam tayangan iklan ini masih
terkekang dan dibatasi ketika mengungkapkan sebuah ekspresi melalui
caranya berpakaian, tentu saja dalam konteks ini dia tidak menemukan
sebuah kebebasan. Adegan berikutnya sosok perempuan yang
terbelenggu juga dinampakkan pada key visual ketika dia dia menari
dalam sebuah bar untuk sekedar untuk menikmati hidup, tetapi
pemandangan yang ditunjukkan adalah suasana bar yang belum dibuka
untuk umum karena belum menginjak pukul sepuluh malam.
masih muda nikmatin sepuasnya, asal jangan lewat dari jam sepuluh
malam. Hal ini bermakna bahwa sosok perempuan dalam tayangan iklan
ini tidak bisa merasakan kebebasan berinteraksi dengan lingkungan
sosialnya ketika waktu sudah malam. Adegan selanjutnya key visual yang
dinampakkan dengan narasi yang mengatakan katanya urusan jodoh
sepenuhnya ada di tanganku, asalkan sesuku, kalau bisa kaya,
pendidikan tinggi, dan dari keluarga baik-baik. Ilustrasi yang
dimunculkan adalah suasana di tengah-tengah keramaian ruang tunggu
terminal bus, hal ini bermakna bahwa sosok perempuan tidak mempunyai
kebebasan dalam menentukan pilihan jodohnya. Adegan terakhir
dinampakkan dengan gambar dimana sosok perempuan sedang berada
dalam bus kota dan diiringi dengan katanya zaman sekarang pilihan itu
tidak ada batasnya, tetapi selama mengikuti pilihan yang ada. Hal ini
bermakna bahwa sosok perempuan juga tidak bebas dalam menentukan
sebuah pilihan apapun ketika pilihan itu memang tidak disediakan.
sumber :
1. https://fauzan3486.wordpress.com/2009/04/16/representasi-perempuan-dalam-media/
2. e-journal.uajy.ac.id/6638/1/jurnal.pdf

0 Komentar