Representasi Etnis Jawa di Televisi


Dalam dunia pertelevisian khususnya pada iklan televisi komersial kita sering disuguhkan berbagai macam representasi dari berbagai macam pula budaya yang ada. Budaya menjadi salah satu yang aspek yang kental melekat di setiap individu di bangsa ini. pada kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan tentang Representasi identitas budaya Jawa dalam iklan televisi Indonesia.
Yakni  Kuku Bima Ener-G Versi “Mbah Maridjan”, Rokok 76 Versi
“JIN”, Alang Sari Versi “Soimah”, Obat Batuk “Oskadon Pancen Oye”.
Peneliti menemukan beberapa bentuk identitas budaya Jawa, meliputi;
atribut pakaian penjual jamu gendong seperti jarek dan kebaya, beskap,
belangkon, jarek, sanggul, dan identitas adat Jawa berbentuk joglo dan
juga gebyok wayang.


Sedangkan semiotika Rolland Barthes membantu peneliti untuk
menemukan beberapa mitos yang dihasilkan dari tataran pemaknaan tahap
kedua yakni konotasi. Mitos-mitos tersebut adalah;
Iklan Kuku Bima mitos yang terdapat di dalamnya ialah sosok
laki-laki Jawa yaitu mbah Maridjan  menjadi juru kunci di mana
seorang abdi dalem kraton yogyakrata yang profesinya sebagai juru
kunci merapi-lah muncul anggapan bahwa Mbah Maridjan adalah sosok
yang kuat, Iklan Kuku Bima Ener-G sendiri merepresentasikan tersebut
bahwa Jawa adalah kuat, beradab dan percaya diri. padahal secara
empiris beliau adalah seorang yang sudah tua renta dan secara logika
tidak mungkin memiliki kekuatan fisik yang tangguh.

Hadirnya sosok lelaki Jawa juga ditampilkan pada iklan rokok
Djarum 76  yang di mana menampilkan lelaki Jawa, bahwa laki-laki
jawa yang ditampilkan dalam tayangan iklan ini itu memiliki sifat lelet,
lamban dan kurang sigap, sebagian masyarakat kita berpendapat dalam
mengambil keputusan, orang Jawa itu lamban. Tidak cepat bertindak
atau Penakut. Maka setiap masalah yang dihadapi menjadi berlarut
larut.





Selain lelaki Jawa, sosok wanita juga dihadirkan dalam Iklan
Alang Sari mitos yang ada di dalamnya bahwa wanita Jawa dengan
penggunaan sanggul ukel konde bagi Kaum wanita jawa ini
menandakan bahwa ia telah lepas dari dunia anak-anak dan mulai
menginjak masa dewasa. Hal ini juga berlambang bahwa gadis itu
bagaikan bunga yang sedang mekar dan harum semerbak. Seorang
gadis dewasa harus sanggup memikul tugas dan tanggung jawabnya dan
dianggap telah layak menjadi seorang ibu rumah tangga.





Previous
Next Post »
0 Komentar