TEORI-TEORI KOMUNIKASI MASSA



A.  Teori Komunikasi Massa Klasik
Teori ini dibagi lagi menjadi tiga teori, yaitu Teori Peluru, Teori Uses and Gratification, Teori Agenda Setting, dan Teori Kultivasi.
v  Teori Peluru (Model Jarum Suntik)
Teori ini merupakan teori pertama media massa yang ada. Teori ini beranggapan bahwa komunikator lebih pintar dari pada komunikan kerena komunikan bersifat pasif. Pada tahun 1950-an, teori ini ditampilkan setelah peristiwa penyiaran kaleidoskop stasiun radio CBS di Amerika berjudul “The Invasion From Mars”. Model jarum suntik ini berasumsi bahwa media massa mempunyai efek secara langsung, cepat, dan kuat atas mass audience. Namun, pada tahun 1970-an, teori yang dikemukakakan Scharm ini dicabut karena kenyataannya audience tidak pasif. Pada hakekatnya teori ini menggambarkan media massa merupakan jarum suntik raksa yang besar yang menyuntik komunikan yang pasif, mudah terpengaruh, dan homogen sehingga pesan-pesan yang disampaikan akan langsung dan selalu diterima. Terdapat aspek-aspek yang menarik dalam buku Elihu Katz yaitu “The Diffusion of New Ideas and Prectices” mengenai teori peluru ini;
1.      Media massa sanggup mengijeksi ide-ide orang yang tidak berdaya sehingga media massa memiliki kekuatan yang luar biasa.
2.      Ketika individu-individu dalam mass audience berpendapat sama mengenai suatu persoalanhal ini bukan karena mereka berhubungan atau berkomunikasi satu dengan yang lain, melainkan karena mereka memperoleh pesan-pesan yang sama dari suatu media.
Teori ini menyimpulkan bahwa audience sama sekali tidak dapat dan memiliki kekuatan untuk menolak informasi yang disediakan oleh media massa karena komunikasi yang terjadi yaitu searah. Namun, komunikan memiliki kemampuan untuk tidak menerima maupun menyeleksi informasi yang disuntikkan kepadanya. Hubungan teori ini dengan televisi yaitu bahwa informasi yang disuntik kemudian diberikan kepada para penonton belum tentu dapat langsung diterima ditambah lagi dengan perkembangan jaman ini yang mana secara langsung juga mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan manusia sehingga penonton tidak langsung menerima informasi yang diterimanya. Televisi adalah salah satu media massa yang menggunakan komunikasi satu arah tanpa adanya feedback secara langsung sehingga penonton hanya dapat menerima apa yang ditayangkan, namun kembali lagi kepada statement pertama yaitu penonton memiliki kebebasan untuk menerima ataupun menolak informasi maupun pesan yang disuntikkan dari Televisi.
 
v  Teori Kegunaan dan Grafikasi
Teori ini membahas mengenai pemaham masyarakat mengenai media massa dan efek media bagi masyarakat. Berdasarkan penelitian Elihu Katz, Blumler, dan Michael Gurevitch, teori ini menjelaskan yaitu bagaimana masyarakat tahu menggunakan media massa serta memiliki alasan mengapa menggunakan media massa tersebut. Teori ini menekankan pada konsumen yang aktif yang mana merupakan perluasan dari teori kebutuhan dan motivasi. Terdapat tahap-tahapan dalam penelitian teori ini, yaitu;
1.      Tahap Pertama
Herta Herzog sering disebut sebagai pelopor teori kegunaan dan gratifikasi. Herzog mempelajari mengenai keinginan dan kebutuhan khalayak dengan berusaha membagi alasan-alasan orang melakukan bentuk-bentuk yang berbeda mengenai perilaku media.
2.      Tahap Kedua
Dimulai ketika para peneliti mengetahui alasan masyarakat menggunakan media.
3.      Tahap Ketiga
Peneliti tertarik menggabungkan alasan khusus untuk penggunaan media dengan variabel seperti kebutuhan, tujuan, keuntungan, dan konsekuensi penggunaan media, dan faktor individual (Faber, 2000; Greene & Kremar, 2005; Haridakis & Rubin, 2005; Rubin, 1994).

            Asumsi Teori  :
1.      Khalayak aktif dan penggunaan medianya berorientasi pada tujuan
2.      Inisiatif dalam menghubungkan kepuasan kebutuhan pada pilihan media tertentu terdapat pada anggota khalayak
3.      Media berkompetensi dengan sumber lainnya untuk kepuasan kebutuhan
4.      Orang mempunyai cukup kesadaran diri akan penggunaan media mereka, minat, dan motif sehingga dapat memberikan sebuah gambaran yang akurat mengenai kegunaan tersebut pada peneliti
5.      Penilaian mengenai isi media hanya dapat dinilai oleh khalayak
Terdapat empat jenis aktivitas khalayak menurut Blumler, yaitu;
1.      Kegunaan
Menyelesaikan tugas-tugas tertentu.
2.      Kesengajaan
Motivasi dalam menggunakan media tersebut.
3.      Selektivitas
Sesuai dengan kemampuan pengguna maupun hobi serta kesukaan.
4.      Kesulitan untuk mempengaruhi
Anggota khalayak mengonstruksikan makna mereka sendiri dari muatan media.
Pengaruh media dalam teori ini memunculkan “situasi sosial” yang mana berkaitan dengan komunikasi massa. Situasi menghasilkan ketegangan dan konflik serta kesadaran sehingga publik mengonsumsi media. Hubungan teori ini dengan televisi adalah berkaitannya dengan kegunaan televisi. Televisi memiliki kegunaan untuk memberikan informasi mengenai kejadian yang aktual, hiburan, ekonomi, politik, sosial budaya serta berkaitan dengan pertahanan dan keamanan suatu negara. Informasi yang diberikan ini membuat ‘situasi sosial’ sehingga masyarakat merasa perlu untuk mengkonsumsi televisi misalnya sebagai sarana untuk mengetahui keadaan yang sedang terjadi. Teori ini juga berhubungan dengan alasan mengapa khalayak menggunakan media massa. Kelompok kami menggunakan televisi sebagai contoh media massa yaitu berdasarkan selektivitas; konten televisi yang menampilkan hiburan seperti acara kontes bernyanyi, tayangan pertandingan olahraga yang mana sesuai dengan kesukaan komunikan. Kejadian aktual yang ditayangkan televisi juga memberikan masyarakat informasi terbaru sehingga tidak tertinggal informasi baik mengenai kejadian bencana alam, situasi politik yang terjadi di suatu negara maupun bagaimana keadaan keamanan di suatu negara. Selain itu juga aktivitas khalayak; Kegunaan; dengan menggunakan televisi, khalayak dapat memanfaatkannya sebagai sarana dalam mengerjakan tugas misalnya ketika guru maupun dosen memberikan tugas mengenai berita yang disiarkan di televisi.


v  Teori Agenda Setting
Menurut Maxwell McCombs dan Donald Shaw, teori ini menyatakan bahwa media massa merupakan pusat penentu suatu kebenaran yang terjadi dengan mengarahkan kesadaran publik dengan isu-isu yang penting menurut media massa. Teori ini menjelaskan bagaimana kuatnya efek yang dapat diberikan media massa kepada khalayak sehingga isu-isu yang dianggap penting oleh media massa juga dianggap penting oleh khalayak. Tiga dimensi utama penentu agenda, yaitu;
1.      Agenda Media, bagaimana media terus menerus memberikan informasi kepada khayalak. Terdiri dari visibility, audience salience, valence.
2.      Agenda Khalayak, bagaimana informasi yang terus menerus diberikan diterima masyarakat sehingga menimbulkan awareness bagi publik. Terdiri dari familiarty, personal salience, favorability.
3.      Agenda Kebijakan, bagaimana informasi yang disampaikan dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah dan publik. Terdiri dari support, likehood of action, freedom of action.
4.      Framing, proses seleksi dari berbagai peristiwa yang ada dengan menonjolkan salah satu peristiwa. Framing menayangkan suatu berita terus menerus sehingga muncul agenda publik.


Hubungannya dengan televisi yaitu bagaimana dengan adanya televisi suatu stasiun televisi dapat membuat isu menjadi penting bagi khalayak yang padahal awalnya hanya dianggap penting oleh stasiun TV tersebut. Penampilan informasi yang terus menerus dapat membuat khalayak menjadi aware akan informasi yang ditampilkan. Contoh saja seperti pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017, seluruh Indonesia merasakan ketegangan siapakah yang akan menang padahal pemilihan tersebut hanya untuk wilayah DKI Jakarta. Seperti yang kita lihat bagaiman stasiun televisi memanfaatkan media massa televisi sebagai sarana untuk terus menerus memberitakan pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 dan dikaitkan dengan kejadian yang terjadi seperti demo dan penistaan agama yang berhubungan dengan calon Gubernur.

v  Teori Analisis Kultivitas
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh George Gerbner dengan melakukan penelitian mengenai “Indikator Budaya” yaitu bagaimana pengaruh televisi terhadap kehidupan pengonsumsi pada tahun 60-an yang mana lebih ditekankan kepada dampak dari penggunaan televisi. Awalnya teori ini lebih difokuskan pada kekerasan yang ditampilkan di TV dan bagaimana kehidupan nyata para pengkonsumsi konten di TV. Namun, ternyata dengan adanya perkembangan, teori ini juga dapat digunakan di luar kekerasan. Contohnya seperti para pecandu opera sabun lebih memungkinkan untuk melakukan penyelewengan, bercerai bahkan menggugurkan kandungan dibandinkan dengan yang tidak kecanduan.
            Asumsi teori :
1.      Televisi merupakan media yang unik
2.      Semakin sering seorang menghabiskan waktunya mengonsumsi TV, semakin kuat kecenderungannya untuk menyamakan realitas TV dengan realitas sosial.
3.      Light viewers cenderung menggunakan media yang bervariasi sedangkan heavy viewers mengandalkan TV sebagai sumber informasi.

Ketika dihubungkan TV, teori ini menekankan bagaiman TV secara luar biasa dapat mengubah suatu perspektif dan menyamakan realitas sosial dengan realitas TV. Seperti heavy viewers yang menganggap bahwa kekerasan yang terjadi kemungkinan besar karena masalah sosial yang padahal mungkin saja bukan, bisa saja terjadi karena masalah cultural shock. Biasanya konten yang disiarkan oleh TV menyalahkan kondisi sosial yang ada sehingga heavy viewers berpendapat bahwa hal tersebut terjadi karena masyarakat dan keadaan sosial. Contoh lainnya yaitu mengenai seorang anak yang selalu memberontak kepada orang tua karena orang tua yang kuno dan tidak dapat mengikuti perkembangan jaman. Padahal tidak semua anak-anak tidak menghormati orang tuanya.


B.     Teori Kritis Komunikasi Massa
Teori ini lahir di Eropa hasil dari kondisi sosial politik saat itu. Pada masa itu, media mayoritas dimanfaatkan oleh kaum elit untuk memperluas dominasinya karena media dapat mempengaruhi terciptanya budaya, dapat dipelajari, dibagikan, dan diterapkan. Konsep utama dari teori kritis yaitu konsep budaya. Teori ini bersumber dari ilmu sosial Marxis. Teori ini menjunjung untuk mempertahankan keadaan yang sekarang agar tetap seperti keadaan sebelumnya, khususnya untuk kaum rakyat miskin dari status quo sistem yang menindas. Teori ini mendukung rakyat miskin dan kecil dari ketidakadilan, maka dari itu teori kritis ini mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kekuatan untuk memahami bagaiman rakyat kecil dapat ditindas sehingga masyarakat kecil dapat mengambil tindakan untuk merubah kekuatan penindas. Saat ini teori kritis banyak digunakan dalam studi humaniora karena teori ini bertujuan untuk melakukan eksplorasi refleksi atas pengalaman yang kita alami.
·         Pandangan Mengenai Teori Kritis
1.      Masa Lalu
Teori kritis dimulai oleh kelompok Frankrurt yang terdiri dari Max Horkheimer, Theodore Adorno, Herbert Marcause berserta kolega lainnya. Pada tahun 30-an, ketika bangkitnya Nazi, sehingga mereka bermigrasi ke Amerika dan mereka melihat penindasan yang terjadi di sana dalam masyarakat kapitalistik, khususnya struktur Amerika Serikat.
2.      Masa Sekarang
Teori Kritis digunakan untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas informasi dan media sehingga sekarang media tidak memihak dan netral dalam memberikan informasi.
3.      Masa Depan
Modernitas mengalami kemajuan sehingga manusia tidak dapat dilepaskan dengan teknologi termasuk media sehingga kedepannya teori ini diperlukan untuk stabilitas suatu negara dan memperjuangkan keadilan bagi kelompok-kelompok yang tertindas.

Teori kritis ini menunjukkan bagaimana media dapat digunakan oleh para penguasa untuk memperluas kekuasaannya, baik dalam segi perpolitikan, usaha, maupun pembangunan. Contohnya saja seperti yang dapat kita lihat melalui TV, berita-berita mengenai aksi protes masyarakat kulon progo atas pembangunan bandara di Kulon Progo. Padahal daerah yang digunakan merupakan daerah subur dan mayoritas masyarakat daerah tersebut adalah petani sehingga mereka kehilangan mata pencaharian serta tanah yang merupakan salah satu daerah yang mendistribusikan beras dan jagung di Yogyakarta.


DAFTAR PUSTAKA


Ardianto, E., Komal, L., & Karlinah, S. (2007). Komunikasi massa suatu pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatam Media.
                         
Ariska, I. (2015). Teori Peluru atau Jarum Hipodermik. Diakses melalui http://www.kompasiana.com/igaceper/teori-peluru-atau-jarum-hipodermik_54f781c2a33311a0718b45db

Baran, S., dan Davis, D. (2010). Teori komunikasi massa : Dasar, pergolakan dan masa depan. Jakarta: Salemba Humanika.

 Poepowardojo, T., & Seran, A. (2016). Diskursus Teori-teori kritis: Kritik atas kapitalisme klasik, modern dan kontemporer. Kompas Gramedia. 
 
 Pratama, Aulia. (2016). Para Penantang Sultan dari Kulon Progo. Diakses melalui             http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160830195456-20-154975/para- penantang-sultan-dari-kulon-progo/ Tukang Teori. (2015). Penjelasan Tentang Teori Kultivasi Media Massa Televisi. Diakses melalui http://tukangteori.com/2015/03/penjelasan-tentang-teori-kultivasi-media-massa-televisi.html
  West, R., & Turner, L. H. (2014). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika.

 


Previous
Next Post »
0 Komentar