Representasi kaum LGBT di Televisi

Representasi kaum LGBT di Televisi
 sumber gambar : image.iyaa.com

Jakarta, CNN Indonesia -- LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) belakangan menjadi isu yang marak dibicarakan. Di tengah pro dan kontra yang bermunculan di segala lini diskusi bahkan termasuk media sosial, aktor Roy Marten memilih bersikap netral soal isu itu.

"Terimakasih sama Tuhan kalau saya ini heteroseksual. Tapi saya sangat simpati pada mereka [homoseksual]. Saya bukan mendukung mereka tapi sangat simpati,” tuturnya pada CNNIndonesia.com saat ditemui di Grand Indonesia baru-baru ini.

Melonjaknya perbincangan soal LGBT di berbagai kalangan, seringkali menyudutkan kelompok minoritas itu. Roy merasa mereka seperti sedang dihukum hanya karena orientasi seksualnya berbeda. Padahal, itu tidak seharusnya terjadi.

“Kalau melakukan kejahatan ya hukumlah dia karena kejahatan itu. Bukan karena homo atau banci. Jadi menurut saya orientasi seseorang itu enggak boleh dihukum. Karena kita tidak bisa memilih orientasi seks, saya kira. Karena itu hormon di tubuh kita.”

Roy mengaku dahulu pernah bergaul dengan kumpulan homoseksual. Dengan yakin ia menegaskan, hal itu bukan sesuatu yang menular.

Salah satu cara mengedukasi masyarakat agar tidak berpandangan sempit terhadap isu LGBT, menurut bintang film Akibat Pergaulan Bebas itu, adalah melalui film. Representasi kehidupan homoseksual yang sebenarnya, perlu diberi porsi dalam perfilman.

"Karena film itu mendidik masyarakat. Harusnya tidak boleh ada diskriminasi sikap pada mereka. Namun, tidak perlu didukung dan tidak perlu dihina. Jadi netral saja,” ujarnya. Representasi itu penting untuk menunjukkan bahwa eksistensi mereka ada.

"Kalau itu sebuah kesenian ya enggak apa-apa. Tapi kalau itu menjadi tren, saya juga keberatan," kata Roy memberi catatan.

Selama ini, masih sedikit film Indonesia yang berani mengangkat isu LGBT. Arisan! yang digarap Nia Dinata pernah secara ringan mengangkat fenomena itu. Lola Amaria mengangkatnya secara berani dalam film Sanubari Jakarta. Donny Damara memainkan transgender dengan apik dalam Lovely Man.

Dilema, film omnibus Wulan Guritno juga pernah menampilkan sekilas dua orang lesbian.


Sumber :
http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20160302142016-220-114848/representasi-lgbt-dalam-perfilman-indonesia/

Representasi Etnis Jawa di Televisi


Dalam dunia pertelevisian khususnya pada iklan televisi komersial kita sering disuguhkan berbagai macam representasi dari berbagai macam pula budaya yang ada. Budaya menjadi salah satu yang aspek yang kental melekat di setiap individu di bangsa ini. pada kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan tentang Representasi identitas budaya Jawa dalam iklan televisi Indonesia.
Yakni  Kuku Bima Ener-G Versi “Mbah Maridjan”, Rokok 76 Versi
“JIN”, Alang Sari Versi “Soimah”, Obat Batuk “Oskadon Pancen Oye”.
Peneliti menemukan beberapa bentuk identitas budaya Jawa, meliputi;
atribut pakaian penjual jamu gendong seperti jarek dan kebaya, beskap,
belangkon, jarek, sanggul, dan identitas adat Jawa berbentuk joglo dan
juga gebyok wayang.


Sedangkan semiotika Rolland Barthes membantu peneliti untuk
menemukan beberapa mitos yang dihasilkan dari tataran pemaknaan tahap
kedua yakni konotasi. Mitos-mitos tersebut adalah;
Iklan Kuku Bima mitos yang terdapat di dalamnya ialah sosok
laki-laki Jawa yaitu mbah Maridjan  menjadi juru kunci di mana
seorang abdi dalem kraton yogyakrata yang profesinya sebagai juru
kunci merapi-lah muncul anggapan bahwa Mbah Maridjan adalah sosok
yang kuat, Iklan Kuku Bima Ener-G sendiri merepresentasikan tersebut
bahwa Jawa adalah kuat, beradab dan percaya diri. padahal secara
empiris beliau adalah seorang yang sudah tua renta dan secara logika
tidak mungkin memiliki kekuatan fisik yang tangguh.

Hadirnya sosok lelaki Jawa juga ditampilkan pada iklan rokok
Djarum 76  yang di mana menampilkan lelaki Jawa, bahwa laki-laki
jawa yang ditampilkan dalam tayangan iklan ini itu memiliki sifat lelet,
lamban dan kurang sigap, sebagian masyarakat kita berpendapat dalam
mengambil keputusan, orang Jawa itu lamban. Tidak cepat bertindak
atau Penakut. Maka setiap masalah yang dihadapi menjadi berlarut
larut.





Selain lelaki Jawa, sosok wanita juga dihadirkan dalam Iklan
Alang Sari mitos yang ada di dalamnya bahwa wanita Jawa dengan
penggunaan sanggul ukel konde bagi Kaum wanita jawa ini
menandakan bahwa ia telah lepas dari dunia anak-anak dan mulai
menginjak masa dewasa. Hal ini juga berlambang bahwa gadis itu
bagaikan bunga yang sedang mekar dan harum semerbak. Seorang
gadis dewasa harus sanggup memikul tugas dan tanggung jawabnya dan
dianggap telah layak menjadi seorang ibu rumah tangga.





Representasi Anak di Televisi

Representasi Anak di Televisi


photo by : tempo.com

Representasi merupakan hubungan antara konsep-konsep pikiran dan bahasa yang memungkinkan pembaca menunjuk pada dunia yang sesungguhnya dari suatu obyek, realitas, atau pada dunia imajiner tentang obyek fiktif, manusia atau peristiwa. Dengan cara pandang seperti itu, Hall memetakan sistem representasi ke dalam dua bagian, yakni mental representations dan bahasa (Hall, 1997:17).

Mental representations bersifat subyektif, individual; masing-masing orang memiliki  perbedaan dalam mengorganisasikan dan mengklasifikasikan konsep-konsep sekaligus menetapkan hubungan diantara semua itu. Sedangkan bahasa menjadi bagian sistem representasi karena pertukaran makna tidak mungkin terjadi ketika tidak ada akses terhadap bahasa bersama. Istilah umum yang seringkali digunakan untuk kata, suara, atau kesan yang membawa makna adalah tanda (sign).

Bahasa dan tanda atau sign dalam iklan anak-anak di televisi tampak dalam fenomena kata-kata atau statemen, gambar atau adegan dalam iklan tersebut. Anak-anak tidak serta merta berakting dan menyampaikan informasi produk iklan, namun sekaligus anak menawarkan simbol-simbol ideologi tertentu, terutama ideologi dominan. Ideologi kapitalis. (Dian Marhaeni, 2006 ) 

 Pada contoh berikut, dilakukan proses penafsiran atas kalimat narasi iklan Trie Indie + versi anak-anak dan juga nilai yang terkandung pada kalimat iklan dan kontroversinya. Terdapat  2 versi iklan Trie Indie + versi anak –anak dengan 19 narasi yang dianalisis oleh peneliti dengan menggunakan metode Semiotika dari Louis Hjelmslev yang melihat penafsiran berdasarkan pada hubungan “ungkapan” dan “kandungan” isi pesan terutama pada sisi bahasa yang terdapat pada narasi yang digunakan sebagai item utama untuk menguatkan pesan iklan dan mengetahui hubungan tanda pada kalimat. Pada narasi disini memiliki peran kuat dibandingkan visualnya karena narasi yang dibacakan oleh anak-anak sebagai penonjolan utama dari iklan yang disampaikannya.

Kedua narasi iklan yang terdiri dari 19 baris kalimat yang diucapkan oleh anak-anak pada iklan Trie Indie+ mengungkapkan tentang kiasan-kiasan berupa harapan jika sudah dewasa dan harapan bekerja dengan mengedepankan kemapanan dalam pekerjaan yang diperoleh. Terdapat empat baris pesan iklan Trie Indie+ versi anak-anak yang pertama dan enam pesan iklan Trie Indie+ versi anak-anak pada versi iklan yang kedua.  Pesan iklan yang disampaikan sebagai sebuah tanda dimana penguatan ungkapan yang digunakan pada narasi disini berfungsi untuk menggambarkan sebuah harapan untuk bekerja dengan mengedepankan kemapanan dalam pekerjaan. Dicontohkan pada kalimat di barisan pertama versi 1 “Kalau aku udah gede, aku pengen kerja di multinasional company” dan versi 2 “Kalau aku udah gede, aku mau jadi eksmud, mau jadi bos”

Dilihat dari narasi yang dibacakan mereka maka disimpulkan bahwa Representasi anak – anak disini terutama pada pesan komunikasinya bukan diperankan selayaknya perilaku anak-anak untuk kesehariannya, melainkan pengucapan yang selayaknya diucapkan oleh orang dewasa. Sehingga disini terdapat pertentangan antara konten narasi dengan karakteristik anak-anak.Hal tersebut dapat dilihat melalui visual, dimana pada visual yang menggambarkan anak-anak yang sedang bermain dan berbicara di dalam dan luar ruangan tidak menunjukkan tanda yang menonjol sebagai penguatan karakter iklan karena karakter pada kedua iklan lebih dikuatkan pada konten narasinya. Penguatan konten narasi disini lebih menitikberatkan pada konten narasi dewasa.Sehingga pertentangannya adalah pada visual dan narasi iklan yang tidak berkesinambungan.

sumber : 
https://www.academia.edu/24166343/REPRESENTASI_ANAK-ANAK_DALAM_TAYANGAN_IKLAN_KOMERSIAL_DI_MEDIA 
ejournal.bsi.ac.id/assets/files/Jurnal_Komunikasi_No_2_vol_5_14_ok_kp3_01.pdf


 

Representasi Perempuan di Televisi


sumber gambar : kompasiana.com 

Berbeda dari wanita, istilah “perempuan” dapat merujuk kepada orang yang telah dewasa maupun yang masih anak-anak.
Berdasarkan pengertian tersebut perempuan tentunya memiliki posisi terbaik dalam kehidupan sehari-hari. Namun pada kenyataannya, subordinasi perempuan masih saja terjadi. Jadi, representasi perempuan merupakan gambaran (perwakilan) perempuan. Sedangkan representasi perempuan dalam media adalah bagaimana media massa menggambarkan (dari perwakilan orang / kelompok) perempuan kepada khalayak.

Representasi perempuan dalam media khususnya televisi menawarkan model-model peran yang mendorong ketundukan perempuan pada dunia laki-laki, dan yang mengecilkan arti penghargaan diri dan sikap proaktif perempuan. Dengan sendirinya representasi ini berkaitan dengan gender.
Mengutip buku “Eksplorasi Gender di Ranah Jurnalisme dan Hiburan” dengan penyunting Ashadi Siregar dkk, mengatakan ada tiga relasi discourse yang digunakan dalam melihat komodifikasi perempuan di dalam media hiburan pada tingkat “tekstual”. Pertama, keberadaan perempuan di dalam media massa dikaitkan dengan ‘inter-relasinya’ dengan keberadaan laki-laki yang secara bersama-sama menentukan posisi dan eksistensi masing-masing. Kedua, analisis tersebut memperhatikan berbagai pengaruh budaya popular global terhadap media lokal. Ketiga, dengan melihat berbagai pengaruh tersebut, diharapkan dapat dilihat berbagai perubahan relasi gender di dalam media hiburan.

Representasi perempuan yang terbelenggu dalam tayangan
TVC ini bisa dilihat dari key visual yang muncul dan ditemukan peneliti
di setiap shot dalam adegannya. Secara berurutan key visual yang
dinampakkan antara lain simbol burung dalam kandang dan diisi dengan
narasi yang mengatakan kebebasan itu omong kosong. Hal ini bermakna
bahwa sosok perempuan dalam tayangan iklan ini adalah seseorang yang
tidak bebas dan terkekang. Kemudian pada shot berikutnya key visual
dinampakkan ketika sosok perempuan mengenakan rok panjang basah
terkena air sehingga dia harus mengangkatnya sampai di atas lutut.
Adegan ini juga diiringi dengan narasi yang mengatakan katanya aku
bebas berekspresi, tapi selama rok masih di bawah lutut. Hal ini
bermakna bahwa hak sosok perempuan dalam tayangan iklan ini masih
terkekang dan dibatasi ketika mengungkapkan sebuah ekspresi melalui
caranya berpakaian, tentu saja dalam konteks ini dia tidak menemukan
sebuah kebebasan. Adegan berikutnya sosok perempuan yang
terbelenggu juga dinampakkan pada key visual ketika dia dia menari
dalam sebuah bar untuk sekedar untuk menikmati hidup, tetapi
pemandangan yang ditunjukkan adalah suasana bar yang belum dibuka
untuk umum karena belum menginjak pukul sepuluh malam.



Adegan ini juga diiringi dengan narasi yang mengatakan hidup ini singkat mumpung
masih muda nikmatin sepuasnya, asal jangan lewat dari jam sepuluh
malam. Hal ini bermakna bahwa sosok perempuan dalam tayangan iklan
ini tidak bisa merasakan kebebasan berinteraksi dengan lingkungan
sosialnya ketika waktu sudah malam. Adegan selanjutnya key visual yang
dinampakkan dengan narasi yang mengatakan katanya urusan jodoh
sepenuhnya ada di tanganku, asalkan sesuku,  kalau bisa kaya,
pendidikan tinggi, dan dari keluarga baik-baik. Ilustrasi yang
dimunculkan adalah suasana di tengah-tengah keramaian ruang tunggu
terminal bus, hal ini bermakna bahwa sosok perempuan tidak mempunyai
kebebasan dalam menentukan pilihan jodohnya. Adegan terakhir
dinampakkan dengan gambar dimana sosok perempuan sedang berada
dalam bus kota dan diiringi dengan katanya zaman sekarang pilihan itu
tidak ada batasnya, tetapi selama mengikuti pilihan yang ada. Hal ini
bermakna bahwa sosok perempuan juga tidak bebas dalam menentukan
sebuah pilihan apapun ketika pilihan itu memang tidak disediakan. 

sumber :
1. https://fauzan3486.wordpress.com/2009/04/16/representasi-perempuan-dalam-media/
2. e-journal.uajy.ac.id/6638/1/jurnal.pdf

TEORI-TEORI KOMUNIKASI MASSA



A.  Teori Komunikasi Massa Klasik
Teori ini dibagi lagi menjadi tiga teori, yaitu Teori Peluru, Teori Uses and Gratification, Teori Agenda Setting, dan Teori Kultivasi.
v  Teori Peluru (Model Jarum Suntik)
Teori ini merupakan teori pertama media massa yang ada. Teori ini beranggapan bahwa komunikator lebih pintar dari pada komunikan kerena komunikan bersifat pasif. Pada tahun 1950-an, teori ini ditampilkan setelah peristiwa penyiaran kaleidoskop stasiun radio CBS di Amerika berjudul “The Invasion From Mars”. Model jarum suntik ini berasumsi bahwa media massa mempunyai efek secara langsung, cepat, dan kuat atas mass audience. Namun, pada tahun 1970-an, teori yang dikemukakakan Scharm ini dicabut karena kenyataannya audience tidak pasif. Pada hakekatnya teori ini menggambarkan media massa merupakan jarum suntik raksa yang besar yang menyuntik komunikan yang pasif, mudah terpengaruh, dan homogen sehingga pesan-pesan yang disampaikan akan langsung dan selalu diterima. Terdapat aspek-aspek yang menarik dalam buku Elihu Katz yaitu “The Diffusion of New Ideas and Prectices” mengenai teori peluru ini;
1.      Media massa sanggup mengijeksi ide-ide orang yang tidak berdaya sehingga media massa memiliki kekuatan yang luar biasa.
2.      Ketika individu-individu dalam mass audience berpendapat sama mengenai suatu persoalanhal ini bukan karena mereka berhubungan atau berkomunikasi satu dengan yang lain, melainkan karena mereka memperoleh pesan-pesan yang sama dari suatu media.
Teori ini menyimpulkan bahwa audience sama sekali tidak dapat dan memiliki kekuatan untuk menolak informasi yang disediakan oleh media massa karena komunikasi yang terjadi yaitu searah. Namun, komunikan memiliki kemampuan untuk tidak menerima maupun menyeleksi informasi yang disuntikkan kepadanya. Hubungan teori ini dengan televisi yaitu bahwa informasi yang disuntik kemudian diberikan kepada para penonton belum tentu dapat langsung diterima ditambah lagi dengan perkembangan jaman ini yang mana secara langsung juga mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan manusia sehingga penonton tidak langsung menerima informasi yang diterimanya. Televisi adalah salah satu media massa yang menggunakan komunikasi satu arah tanpa adanya feedback secara langsung sehingga penonton hanya dapat menerima apa yang ditayangkan, namun kembali lagi kepada statement pertama yaitu penonton memiliki kebebasan untuk menerima ataupun menolak informasi maupun pesan yang disuntikkan dari Televisi.
 
v  Teori Kegunaan dan Grafikasi
Teori ini membahas mengenai pemaham masyarakat mengenai media massa dan efek media bagi masyarakat. Berdasarkan penelitian Elihu Katz, Blumler, dan Michael Gurevitch, teori ini menjelaskan yaitu bagaimana masyarakat tahu menggunakan media massa serta memiliki alasan mengapa menggunakan media massa tersebut. Teori ini menekankan pada konsumen yang aktif yang mana merupakan perluasan dari teori kebutuhan dan motivasi. Terdapat tahap-tahapan dalam penelitian teori ini, yaitu;
1.      Tahap Pertama
Herta Herzog sering disebut sebagai pelopor teori kegunaan dan gratifikasi. Herzog mempelajari mengenai keinginan dan kebutuhan khalayak dengan berusaha membagi alasan-alasan orang melakukan bentuk-bentuk yang berbeda mengenai perilaku media.
2.      Tahap Kedua
Dimulai ketika para peneliti mengetahui alasan masyarakat menggunakan media.
3.      Tahap Ketiga
Peneliti tertarik menggabungkan alasan khusus untuk penggunaan media dengan variabel seperti kebutuhan, tujuan, keuntungan, dan konsekuensi penggunaan media, dan faktor individual (Faber, 2000; Greene & Kremar, 2005; Haridakis & Rubin, 2005; Rubin, 1994).

            Asumsi Teori  :
1.      Khalayak aktif dan penggunaan medianya berorientasi pada tujuan
2.      Inisiatif dalam menghubungkan kepuasan kebutuhan pada pilihan media tertentu terdapat pada anggota khalayak
3.      Media berkompetensi dengan sumber lainnya untuk kepuasan kebutuhan
4.      Orang mempunyai cukup kesadaran diri akan penggunaan media mereka, minat, dan motif sehingga dapat memberikan sebuah gambaran yang akurat mengenai kegunaan tersebut pada peneliti
5.      Penilaian mengenai isi media hanya dapat dinilai oleh khalayak
Terdapat empat jenis aktivitas khalayak menurut Blumler, yaitu;
1.      Kegunaan
Menyelesaikan tugas-tugas tertentu.
2.      Kesengajaan
Motivasi dalam menggunakan media tersebut.
3.      Selektivitas
Sesuai dengan kemampuan pengguna maupun hobi serta kesukaan.
4.      Kesulitan untuk mempengaruhi
Anggota khalayak mengonstruksikan makna mereka sendiri dari muatan media.
Pengaruh media dalam teori ini memunculkan “situasi sosial” yang mana berkaitan dengan komunikasi massa. Situasi menghasilkan ketegangan dan konflik serta kesadaran sehingga publik mengonsumsi media. Hubungan teori ini dengan televisi adalah berkaitannya dengan kegunaan televisi. Televisi memiliki kegunaan untuk memberikan informasi mengenai kejadian yang aktual, hiburan, ekonomi, politik, sosial budaya serta berkaitan dengan pertahanan dan keamanan suatu negara. Informasi yang diberikan ini membuat ‘situasi sosial’ sehingga masyarakat merasa perlu untuk mengkonsumsi televisi misalnya sebagai sarana untuk mengetahui keadaan yang sedang terjadi. Teori ini juga berhubungan dengan alasan mengapa khalayak menggunakan media massa. Kelompok kami menggunakan televisi sebagai contoh media massa yaitu berdasarkan selektivitas; konten televisi yang menampilkan hiburan seperti acara kontes bernyanyi, tayangan pertandingan olahraga yang mana sesuai dengan kesukaan komunikan. Kejadian aktual yang ditayangkan televisi juga memberikan masyarakat informasi terbaru sehingga tidak tertinggal informasi baik mengenai kejadian bencana alam, situasi politik yang terjadi di suatu negara maupun bagaimana keadaan keamanan di suatu negara. Selain itu juga aktivitas khalayak; Kegunaan; dengan menggunakan televisi, khalayak dapat memanfaatkannya sebagai sarana dalam mengerjakan tugas misalnya ketika guru maupun dosen memberikan tugas mengenai berita yang disiarkan di televisi.


v  Teori Agenda Setting
Menurut Maxwell McCombs dan Donald Shaw, teori ini menyatakan bahwa media massa merupakan pusat penentu suatu kebenaran yang terjadi dengan mengarahkan kesadaran publik dengan isu-isu yang penting menurut media massa. Teori ini menjelaskan bagaimana kuatnya efek yang dapat diberikan media massa kepada khalayak sehingga isu-isu yang dianggap penting oleh media massa juga dianggap penting oleh khalayak. Tiga dimensi utama penentu agenda, yaitu;
1.      Agenda Media, bagaimana media terus menerus memberikan informasi kepada khayalak. Terdiri dari visibility, audience salience, valence.
2.      Agenda Khalayak, bagaimana informasi yang terus menerus diberikan diterima masyarakat sehingga menimbulkan awareness bagi publik. Terdiri dari familiarty, personal salience, favorability.
3.      Agenda Kebijakan, bagaimana informasi yang disampaikan dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah dan publik. Terdiri dari support, likehood of action, freedom of action.
4.      Framing, proses seleksi dari berbagai peristiwa yang ada dengan menonjolkan salah satu peristiwa. Framing menayangkan suatu berita terus menerus sehingga muncul agenda publik.


Hubungannya dengan televisi yaitu bagaimana dengan adanya televisi suatu stasiun televisi dapat membuat isu menjadi penting bagi khalayak yang padahal awalnya hanya dianggap penting oleh stasiun TV tersebut. Penampilan informasi yang terus menerus dapat membuat khalayak menjadi aware akan informasi yang ditampilkan. Contoh saja seperti pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017, seluruh Indonesia merasakan ketegangan siapakah yang akan menang padahal pemilihan tersebut hanya untuk wilayah DKI Jakarta. Seperti yang kita lihat bagaiman stasiun televisi memanfaatkan media massa televisi sebagai sarana untuk terus menerus memberitakan pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 dan dikaitkan dengan kejadian yang terjadi seperti demo dan penistaan agama yang berhubungan dengan calon Gubernur.

v  Teori Analisis Kultivitas
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh George Gerbner dengan melakukan penelitian mengenai “Indikator Budaya” yaitu bagaimana pengaruh televisi terhadap kehidupan pengonsumsi pada tahun 60-an yang mana lebih ditekankan kepada dampak dari penggunaan televisi. Awalnya teori ini lebih difokuskan pada kekerasan yang ditampilkan di TV dan bagaimana kehidupan nyata para pengkonsumsi konten di TV. Namun, ternyata dengan adanya perkembangan, teori ini juga dapat digunakan di luar kekerasan. Contohnya seperti para pecandu opera sabun lebih memungkinkan untuk melakukan penyelewengan, bercerai bahkan menggugurkan kandungan dibandinkan dengan yang tidak kecanduan.
            Asumsi teori :
1.      Televisi merupakan media yang unik
2.      Semakin sering seorang menghabiskan waktunya mengonsumsi TV, semakin kuat kecenderungannya untuk menyamakan realitas TV dengan realitas sosial.
3.      Light viewers cenderung menggunakan media yang bervariasi sedangkan heavy viewers mengandalkan TV sebagai sumber informasi.

Ketika dihubungkan TV, teori ini menekankan bagaiman TV secara luar biasa dapat mengubah suatu perspektif dan menyamakan realitas sosial dengan realitas TV. Seperti heavy viewers yang menganggap bahwa kekerasan yang terjadi kemungkinan besar karena masalah sosial yang padahal mungkin saja bukan, bisa saja terjadi karena masalah cultural shock. Biasanya konten yang disiarkan oleh TV menyalahkan kondisi sosial yang ada sehingga heavy viewers berpendapat bahwa hal tersebut terjadi karena masyarakat dan keadaan sosial. Contoh lainnya yaitu mengenai seorang anak yang selalu memberontak kepada orang tua karena orang tua yang kuno dan tidak dapat mengikuti perkembangan jaman. Padahal tidak semua anak-anak tidak menghormati orang tuanya.


B.     Teori Kritis Komunikasi Massa
Teori ini lahir di Eropa hasil dari kondisi sosial politik saat itu. Pada masa itu, media mayoritas dimanfaatkan oleh kaum elit untuk memperluas dominasinya karena media dapat mempengaruhi terciptanya budaya, dapat dipelajari, dibagikan, dan diterapkan. Konsep utama dari teori kritis yaitu konsep budaya. Teori ini bersumber dari ilmu sosial Marxis. Teori ini menjunjung untuk mempertahankan keadaan yang sekarang agar tetap seperti keadaan sebelumnya, khususnya untuk kaum rakyat miskin dari status quo sistem yang menindas. Teori ini mendukung rakyat miskin dan kecil dari ketidakadilan, maka dari itu teori kritis ini mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kekuatan untuk memahami bagaiman rakyat kecil dapat ditindas sehingga masyarakat kecil dapat mengambil tindakan untuk merubah kekuatan penindas. Saat ini teori kritis banyak digunakan dalam studi humaniora karena teori ini bertujuan untuk melakukan eksplorasi refleksi atas pengalaman yang kita alami.
·         Pandangan Mengenai Teori Kritis
1.      Masa Lalu
Teori kritis dimulai oleh kelompok Frankrurt yang terdiri dari Max Horkheimer, Theodore Adorno, Herbert Marcause berserta kolega lainnya. Pada tahun 30-an, ketika bangkitnya Nazi, sehingga mereka bermigrasi ke Amerika dan mereka melihat penindasan yang terjadi di sana dalam masyarakat kapitalistik, khususnya struktur Amerika Serikat.
2.      Masa Sekarang
Teori Kritis digunakan untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas informasi dan media sehingga sekarang media tidak memihak dan netral dalam memberikan informasi.
3.      Masa Depan
Modernitas mengalami kemajuan sehingga manusia tidak dapat dilepaskan dengan teknologi termasuk media sehingga kedepannya teori ini diperlukan untuk stabilitas suatu negara dan memperjuangkan keadilan bagi kelompok-kelompok yang tertindas.

Teori kritis ini menunjukkan bagaimana media dapat digunakan oleh para penguasa untuk memperluas kekuasaannya, baik dalam segi perpolitikan, usaha, maupun pembangunan. Contohnya saja seperti yang dapat kita lihat melalui TV, berita-berita mengenai aksi protes masyarakat kulon progo atas pembangunan bandara di Kulon Progo. Padahal daerah yang digunakan merupakan daerah subur dan mayoritas masyarakat daerah tersebut adalah petani sehingga mereka kehilangan mata pencaharian serta tanah yang merupakan salah satu daerah yang mendistribusikan beras dan jagung di Yogyakarta.


DAFTAR PUSTAKA


Ardianto, E., Komal, L., & Karlinah, S. (2007). Komunikasi massa suatu pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatam Media.
                         
Ariska, I. (2015). Teori Peluru atau Jarum Hipodermik. Diakses melalui http://www.kompasiana.com/igaceper/teori-peluru-atau-jarum-hipodermik_54f781c2a33311a0718b45db

Baran, S., dan Davis, D. (2010). Teori komunikasi massa : Dasar, pergolakan dan masa depan. Jakarta: Salemba Humanika.

 Poepowardojo, T., & Seran, A. (2016). Diskursus Teori-teori kritis: Kritik atas kapitalisme klasik, modern dan kontemporer. Kompas Gramedia. 
 
 Pratama, Aulia. (2016). Para Penantang Sultan dari Kulon Progo. Diakses melalui             http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160830195456-20-154975/para- penantang-sultan-dari-kulon-progo/ Tukang Teori. (2015). Penjelasan Tentang Teori Kultivasi Media Massa Televisi. Diakses melalui http://tukangteori.com/2015/03/penjelasan-tentang-teori-kultivasi-media-massa-televisi.html
  West, R., & Turner, L. H. (2014). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika.